Pengalamanku Di SMU

1083 views

Cerita Sex

Waktu aku masih sekolah di
sebuah SMU di Bantul aku
mempunyai seorang teman. Bisa
dikatakan teman dekat.
Namanya Evi. Usianya 17 tahun.
Dia keturunan Cina sehingga
kulitnya kuning langsat.
Tingginya sekitar 156 cm dan
beratnya sekitar 48 kg.
Rambutnya lurus panjang dan
berwarna kecoklatan. Dia
pindahan dari kota lain waktu
permulaan kelas tiga. Aku dan
dia saling menyukai. Meskipun
ada perbedaan warna kulit.
Kulitku sendiri sawo matang.
Suatu hari menjelang EBTA
lokal dia minta sesuatu yang
juga ada dipikiranku. Dia minta
dicium. Akhirnya kami berdua
sepakat melakukannya setelah
pulang sekolah. Di salah satu
kamar mandi sekolah. Setelah
keadaan sekolah sepi kami
berdua segera masuk ke
kamar mandi. Kebetulan kamar
mandi di sekolahku tidak
membedakan antara cowok
dan cewek.
Kami berdua berhadap-
hadapan. Kami sama-sama ragu
untuk memulai. Entah siapa
yang memulai, tahu-tahu kami
berdua sudah berciuman. Lidah
kami berdua saling menjilat.
Matanya terpejam.
Tanganku mencoba meremas
payudaranya yang berukuran
38 yang masih tertutup
pakaian seragam sekolah.
Kuremas payudara kanannya.
Ciuman kami terlepas.
“Ooohh..” Desah Evi.
Tangannya turun ke bawah
mau membuka retsluiting
celanaku. Kami berdua
tersenyum. Tiba-tiba.
“Apa-apaan kalian.” Bentak
seseorang.
Kami berdua terkejut. Di pintu
yang terbuka terdapat salah
seorang guru BP yang sangat
ditakuti. Namanya Bu Heydi.
Tanganku menghentikan
remasan pada payudara kanan
Evi. Sementara tangan Evi
masih di celanaku.
“Kalian berdua ikut aku ke
kantor.” Kata Bu Heydi sambil
berjalan keluar kamar mandi.
Kami berdua mengikutinya.
Tangan Evi memegang
tanganku. Dia kelihatan
ketakutan. Aku sendiri juga
takut. Takut hal ini akan
disebarluaskan.
Kami bertiga telah sampai di
ruang BP. Dikuncinya pintu
ruangan itu. Kami berdua
disuruh duduk di kursi sofa.
Begitu duduk Evi dengan
setengah menangis berkata.
“Tolong bu. Jangan bilang
siapa-siapa.”Bokep pemandu karaoke binal dientot ngangkang paman sendiri
“Baiklah. Kamu jangan menangis.
Aku akan tutup mulut. Tapi
ada syaratnya.” Kata Bu Heydi
yang duduk di depan meja
kerjanya.
“Apa syaratnya, bu?” tanyaku.
“Saya bersedia memberi uang
kepada ibu.” Kata Evi sebelum
Bu Heydi menjawab
pertanyaanku.
“Aku nggak butuh uang.”
Bu Heydi diam sejenak.
Kemudian lanjutnya.
“Aku butuh kamu.” Katanya
sambil menunjukku. Kali ini
suaranya agak lembut.
“Apa yang bisa saya bantu?”
“Aku butuh tubuhmu.”
“Maksudnya?”
“Aku minta dilayani.”
Aku dan juga Evi setengah
kaget. Aku tidak mengira Bu
Heydi mengajukan syarat yang
sangat tidak mungkin
kulakukan. Aku hanya diam.
Aku tahu Bu Heydi yang
berusia 47 tahun adalah
seorang janda. Jadi wajar saja
dia minta dilayani.
“Bagaimana?” Kata Bu Heydi
sambil melepas kemejanya.
Sehingga dia tinggal memakai
baju dalam yang putih tipis
memperlihatkan branya yang
berwarna hitam. Tampak juga
sebagian kulit sawo matangnya
pada tubuh dengan tinggi
sekitar 156 cm dan berat
sekitar 53 kg.
“Jangan, bu. Syarat yang lain
saja.” Tolakku sambil tetap
memegang tangan Evi.
“Ibu nggak punya syarat lain
selain itu.”
“Jangan, bu.” Tolakku sekali
lagi.
“Kalau begitu, ibu akan
umumkan perbuatan kalian
besok.” Kata Bu Heydi agak
marah.
Aku dan Evi berpandangan.
Kembali Bu Heydi berkata.
“Daripada bercinta dengan
orang yang lain warna
kulitnya, lebih baik dengan..”
Belum selesai Bu Heydi selesai
bicara sudah disela oleh Evi.
“Tolong, bu. Jangan sebut-
sebut warna kulit. Aku rela.
Terserah ibu mau lakukan apa
terhadapnya. Tapi. Sekali lagi.
Jangan sebut-sebut warna
kulit.” Kata Evi dengan nada
keras dan melepaskan
pegangan tanganku.
Bu Heydi tertawa sambil berdiri
menghampiriku. Dia jongkok di
depan tempat aku duduk. Dia
meremas penisku yang masih
tidur. Remasan itu membuat
penisku setengah tegang.
Sementara Evi berdiri. Dia
berjalan mau keluar dari
ruangan itu.
“Eh. Jangan pergi dulu.” Cegah
Bu Heydi sambil tetap
memegang penisku. Kemudian
sambungnya lagi.
“Setelah aku menikmati tubuh
pacarmu ini, kamu boleh
melakukannya sepuasnya.”
Kelihatannya Evi setuju. Dia
kembali duduk. Tetapi duduk di
kursi sofa yang berada di
depanku yang dibatasi oleh
meja. Sementara meja itu telah
digeser Bu Heydi untuk
berjongkok.
Setelah melihat Evi duduk,
kembali Bu Heydi meremas
penisku. Kali ini penisku sudah
hampir tegang. Dibukanya
celanaku. Diturunkan ke bawah
sedikit termasuk celana
dalamku. Penisku sudah muncul
dihadapan Bu Heydi dengan
keadaan tegang sepenuhnya.
Dipegangnya penisku dan
langsung dimasukkan ke
mulutnya. Dikeluarmasukkan
penisku yang panjangnya 15
cm. Tanganku hanya memegang
rambut hitamnya yang lurus
potong pendek sebahu ciri
khas BP. Mataku setengah
terpejam menikmati kuluman Bu
Heydi terhadap penisku.
Sekarang kepala penisku
dijilatinya sambil melepas baju
dalam yang masih dipakainya.
Kemudian dipegangnya lagi
penisku dan dimasukkan
kembali ke mulutnya.
Tangannya juga membelai buah
pelirku. Penisku dikeluarkan
dari mulutnya dan disentuhkan
ke lehernya sementara
lidahnya menjilati pinggangku.
Aku beranikan membuka ikatan
bra yang dipakai Bu Heydi.
Perlahan-lahan kulepas bra itu.
Sedangkan Bu Heydi menjilati
buah pelirku.
Beberapa saat kemudian
digesek-gesekkan diantara
kedua payudara Bu Heydi yang
berukuran 34. Pada saat itu
kulihat Evi sedang melakukan
masturbasi. Baju seragam
sekolahnya setengah terbuka
dan dia meremas payudara
kanannya yang masih ditutupi
kaos dalam dan bra. Bu Heydi
kembali menjilati kepala
penisku. Kudorong kepalanya
supaya penisku masuk ke
mulutnya. Kembali penisku
keluarmasuk masuk mulut Bu
Heydi. Sambil kedua tangannya
membelai-belai buah pelirku.
Setelah puas menikmati
penisku, dia berdiri
menyorongkan payudara
kirinya ke mulutku. Kujilati
payudara kirinya itu. Bu Heydi
rupanya juga melihat Evi
bermasturbasi. Dia
meninggalkanku dan
menghampiri Evi yang masih
asyik dengan remasan pada
payudara kanannya.
“Boleh ibu bantu.” Tawar Bu
Heydi.
Evi menghentikan remasannya
dan hanya diam. Dan tanpa
persetujuan Evi dibukanya
dengan cepat seluruh pakaian
seragam sekolah yang dipakai
Evi termasuk kaos dalam dan
bra. Mereka berdua sama-
sama setengah telanjang.
Dibimbingnya Evi untuk berdiri
untuk menempelkan kedua
payudaranya ke kedua
payudara Evi.
“Ooouhh..” Mereka berdua
sama-sama mendesah.
Bu Heydi lalu memegang kedua
payudara Evi sedangkan Evi
mendorong tubuh Bu Heydi
pada kedua lengannya. Aku
kira Evi yang mempunyai tato
bergambar bunga mawar kecil
di atas pusarnya akan menolak
ajakan Bu Heydi. Ternyata
tidak. Evi bahkan melepas
semua pakaian yang tersisa di
tubuhnya yang diikuti oleh Bu
Heydi yang juga dengan cepat
melepas semua pakaiannya.
Keduanya berdiri berhadap-
hadapan dan saling tersenyum.
Aku sendiri ketika mereka
melepaskan semua pakaian
juga ikut melepas semua
pakaianku sambil duduk. Aku
ingin menghampiri mereka yang
kemudian dihalang-halangi oleh
Bu Heydi.
“Biarkan aku menikmati
tubuhnya sendirian.” Kata Bu
Heydi sambil berjalan ke
belakang Evi.
Dari belakang diciumnya bibir
Evi yang tangan kanannya
memegang leher belakang Bu
Heydi. Tangan kiri Bu Heydi dari
belakang meremas payudara
kiri Evi. Tangan kiri Evi menjepit
tangan kiri Bu Heydi di bawah
ketiaknya sambil memegang
tangan kanan Bu Heydi yang
membelai vaginanya.
Lalu Evi membalik badannya
dan dengan membungkuk
dihisapnya kedua payudara Bu
Heydi bergantian.
“Uuughh..” Desah Bu Heydi.
Kedua tangannya memegang
pinggang Bu Heydi. Ditariknya
tubuh Evi ke atas sambil dia
sendiri berjongkok di hadapan
Evi. Langsung saja dibukanya
vagina Evi dengan kedua
tangannya. Evi meletakkan kaki
kirinya ke atas kursi sofa
untuk mempermudah
terbukanya vaginanya. Bu
Heydi lalu menjilat vagina Evi
dan menghisapnya.
“Aaaghh..oohh..” Desah Evi.
Bu Heydi lalu membimbing Evi
untuk duduk di kursi sofa.
Gantian dia membungkuk dan
menghisap kedua payudara Evi
bergantian.
“Uuughh..” Desah Evi.
Mulutnya turun ke bawah dan
dihisapnya kembali vagina Evi
dengan lidahnya. Evi meremas
rambut Bu Heydi yang semakin
bernafsu dalam menghisap
vagina Evi.
“Aaaghh..oohh..” Desah Evi.
Bu Heydi kemudian
menghentikan permainannya.
Dia lalu duduk di kursi sofa
dengan kaki kanannya tetap
dibawah. Dengan isyarat
tangan dipanggilnya Evi yang
masih duduk sambil tangannya
memegang vaginanya yang
sudah basah. Dihampirinya Bu
Heydi. Jempolnya basah karena
cairan yang keluar dari
vaginanya. Diarahkannya ke
mulut Bu Heydi yang kemudian
menghisap jempol itu.
Lalu Evi duduk di antara kedua
kaki Bu Heydi. Dari belakang Bu
Heydi memeluk Evi sambil
mencium bibir Evi. Tangan
kanannya membelai vagina Evi
dan jari tengah dan
telunjuknya dimasukkan ke
vagina Evi. Kepala Evi otomatis
mendongak ke atas yang
membuat Bu Heydi menjilati
leher Evi. Tangan kirinya
meremas kedua payudara Evi
bergantian. Sedangkan tangan
kanan Evi memegang tangan
kanan Bu Heydi untuk
mempercepat kocokan pada
vaginanya.
“Ooohh..aahh..oouhh..” Desah Evi.
Aku tetap duduk melihat
permainan Bu Heydi dengan Evi
yang memanas. Aku hanya bisa
meremas-remas penisku sendiri
yang tegang. Kelihatannya Evi
sudah mencapai orgasme. Bu
Heydi mengeluarkan kedua
jarinya dari vagina Evi dan
memeluknya. Aku ingin
menghampiri mereka lagi. Tapi.
“Aku ingin lagi, bu.” Kata Evi
pelan.
Aku urungkan menghampiri
mereka yang telah memulai
kembali permainannya yang
semakin memanas. Kulihat Evi
dalam posisi kayang sedang
dihisap vaginanya oleh Bu
Heydi. Evi tidak kuat dalam
kayangnya sehingga dia
terjatuh ke lantai. Tetapi Bu
Heydi tetap saja menghisap
vagina Evi dengan lidahnya
sambil tangan kirinya membelai
paha kiri Evi.
“Aaaghh..oohh..eehmm..” Desah
Evi.
Setelah beberapa lama Evi
mencapai orgasme. Tampak dia
kelelahan. Tetapi oleh Bu Heydi
dirangsang kembali. Dengan
cara Bu Heydi membuka
vaginanya dan menempelkan
kelentitnya ke puting payudara
kanan Evi.
“Aaahh..” Mereka berdua sama-
sama mendesah.
Gairah Evi kembali lagi. Tangan
kirinya meremas payudara
kanannya sendiri sementara
tangan kirinya membelai paha
kanan Bu Heydi. Bu Heydi
melanjutkan dengan berdiri dan
meletakkan kaki kirinya ke
kursi sofa. Evi yang berada
tepat di bawahnya lalu
memegang paha kanan Bu
Heydi dan menjilatinya.
“Eeehmm..” Desah Bu Heydi.
Mulutnya naik ke atas dan
dibukanya vagina Bu Heydi
untuk menghisap dengan
lidahnya.
“Aaaghh..oohh..” Desah Bu Heydi.
Akhirnya Bu Heydi mencapai
orgasme dan dia terjatuh
tertelungkup di sofa dengan
kaki tetap di bawah. Tetapi Evi
belum puas. Puting payudara
kirinya di tempelkan di lubang
pantat Bu Heydi. Kemudian dari
belakang dihisapnya lagi vagina
Bu Heydi dengan lidahnya.
“Aaahh..aaghh..oohh..” Desah Bu
Heydi.
Sebagai puncak permainan
mereka, Evi membalikkan tubuh
Bu Heydi dan mengangkat
kakinya ke atas kursi sofa.
Mereka bermain dalam posisi
69 selama beberapa menit.
Aku semakin asyik saja dengan
penisku. Tidak saja meremas-
remas penisku. Juga kukocok
penisku. Aku tidak tahu ketika
mereka berdua telah
mendatangi aku yang
bersandar ke meja. Bu Heydi
mengambil kursi kayu. Sambil
duduk dia memegang penisku
dan memasukkan ke mulutnya.
Evi ingin menciumku. Tetapi
kudaratkan bibirku ke
payudara kanannya.
“Oooughh..”
Kulepaskan hisapan pada
payudara kanannya. Dia
merangkulkan tangan kirinya
ke pundakku. Tangan kanannya
ikut memegang penisku yang
keluar masuk mulut Bu Heydi.
Tangan kananku meremas
pantat kirinya yang membuat
kepalanya mendongak ke atas.
Aku dapat dengan leluasa
menjilati lehernya dan kedua
payudaranya.Bokep Eropa Lesbian Pornstar
“Eeehmm..eehmm..” Desah Evi.
Kutambah dengan remasan
tangan kiriku yang meremas
pantat kanannya. Penisku
sudah tidak lagi
dikeluarmasukkan. Kulepaskan
diriku dari rangkulan Evi. Evi
kemudian duduk di kursi kayu.
Bu Heydi mendekati Evi. Mereka
berdua berciuman kembali.
Setelah kukangkangkan kaki
Bu Heydi, dari bawah kuhisap
vagina Bu Heydi dengan lidahku
sementara mereka tetap
berciuman.
“Aaaghh..oohh..” Desah Bu Heydi
disela-sela ciumannya.
Mereka berciuman sambil
tangan kanan Bu Heydi
memasukkan jari tengah dan
telunjuknya ke vagina Evi.
Kuremas-remas juga pantat Bu
Heydi. Bu Heydi melepaskan
ciumannya dan berkata.
“Masukkan.” Katanya sambil
mencium Evi kembali.
Dari belakang kumasukkan
pelan-pelan penisku ke vagina
Bu Heydi.
Kulihat tangan kanan Evi
memegang paha kiri Bu Heydi.
Evi juga telah berdiri dari
kursinya. Bu Heydi menjilati
leher Evi sampai ke kedua
payudara Evi. Tangan kirinya
memegang erat tangan kanan
Evi. Penisku keluarmasuk vagina
Bu Heydi dari belakang
sementara Bu Heydi dan Evi
tetap berciuman sambil
menempelkan kedua payudara
mereka. Kedua tangan mereka
saling meremas kedua paha.
Kurasakan maniku mau keluar.
“Maaf, bu. Mau keluar.” Kataku
pelan.
“Keluarkan saja di dalam.”
Jawab Bu Heydi sambil
mendesah disela-sela
ciumannya.
Akhirnya kukeluarkan maniku di
vagina Bu Heydi yang juga
basah. Bu Heydi kemudian
mendorong tubuhku.
Kukeluarkan penisku dari
vagina Bu Heydi dan aku
langsung jatuh terduduk. Aku
duduk bersandar ke tembok
dengan kakiku kuluruskan. Bu
Heydi juga melepaskan
ciumannya pada Evi. Dia duduk
di kursi sofa.
Evi menghampiriku. Aku berjalan
dengan dua lututku juga maju
mendekatinya. Kuhisap
payudara kiri Evi. Sedangkan
payudara kanan Evi kuremas.
“Oooughh..oohh..” Desah Evi.
Bu Heydi juga berdiri dan
menggesekkan kedua
payudaranya ke punggungku
sambil kedua tangannya
membelai bagian depan
tubuhku.
Kubalikkan tubuhku sambil
berdiri. Kubimbing Bu Heydi
untuk duduk di kursi sofa. Ingin
sekali kumasukkan penisku dari
depan. Tapi Evi menarikku ke
belakang. Dia langsung
menghisap vagina Bu Heydi
dengan lidahnya dengan
bertumpu pada kedua
tangannya dan lututnya. Dia
juga berkata kepadaku.
“Masuki aku.” Kata Evi yang
menghentikan hisapan pada
vagina Bu Heydi dengan
lidahnya.
Dari belakang pelan-pelan
kumasukkan penisku.
“Aaaghh..” Desah Evi.
Evi melanjutkan lagi menghisap
vagina Bu Heydi dengan
lidahnya. Tapi baru sebentar,
Evi berkata lagi.
“Keluarkan. Nggak enak.”
Terpaksa kukeluarkan lagi
penisku. Evi membalikkan
tubuhnya dan mendorongku
untuk duduk di kursi kayu. Aku
duduk di kursi kayu. Evi
kemudian mencoba duduk di
pangkuanku. Dia meraba-raba
ke belakang mencari penisku.
Aku tahu maksudnya. Pelan-
pelan kumasukkan penisku ke
vagina Evi. Kurasakan vagina
Evi yang basah.
“Aaaghh..” Desah Evi.
Bu Heydi juga bangkit dari
kursi sofa. Dari samping tangan
kanannya membelai vagina Evi.
Payudara kirinya menempel
pada payudara kanan Evi. lalu
dipegangnya payudara kiri Evi
dan ditempelkan ke payudara
kanannya. Kedua payudara
mereka menempel dan
bergesekan seiring dengan Evi
yang menaikturunkan
pantatnya supaya penisku
keluar masuk. Kuangkat paha
kanan Bu Heydi. Evi
menyambutnya dengan belaian
tangan kiri pada paha kanan
Bu Heydi.
“Ooouhh..aahh..oouhh..” Desah
Evi.
“Ooouhh..” Desah Bu Heydi.
Kemudian Bu Heydi turun ke
bawah. Dihisapnya vagina Evi
yang masih dimasuki penisku.
Kuangkat pantat Evi dan
akupun mencoba berdiri. Aku
berhasil berdiri dan kulihat kaki
kiri Evi diangkat ke atas meja
kecil. Penisku dipegang oleh Bu
Heydi sementara kepala
penisku masih berada di vagina
Evi. Dikeluarkannya penisku
sambil Bu Heydi menjilati cairan
yang keluar dari vagina Evi.
Aku masih berdiri sambil
membersihkan penisku. Kulihat
Bu Heydi terlentang di lantai
dan tangannya menarik Evi
untuk melakukan posisi 69.
Ketika mereka melakukan posisi
itu kukeluarmasukkan penisku
ke vagina Evi.Foto Memek sempit abg asia dientot kontol super gede
“Aaahh..oouhh..Jangan. Jangan.”
Teriak Evi berulang-ulang.
Kukeluarkan penisku sambil
berdiri. Evi juga berdiri. Evi
menghampiriku dan
dibimbingnya aku untuk
telentang dilantai disamping Bu
Heydi yang sudah duduk juga
dilantai. Evi tengkurap di atas
tubuhku sambil mencoba
supaya penisku masuk
vaginanya. Bu Heydi membantu
dari belakang. Dimasukkannya
penisku ke vagina Evi sambil
lidahnya menjilati pantat Evi.
Kuangkat kepalaku untuk
menghisap kedua payudara Evi
yang bergoyang seiring dengan
pantatnya yang
dinaikturunkan. Aku hisap
payudara kanannya. Bu Heydi
dari belakang menempelkan
kedua payudaranya ke
punggung Evi. Tubuhnya ikut
membantu mendorong tubuh
Evi yang dinaikturunkan supaya
penisku keluarmasuk vagina Evi.
Tangan kirinya meremas
payudara kiri Evi.
“Aaahh..oouhh..oohh..aahh..oouhh..”
Desah Evi.
“Aku mau keluar.” Kataku
sambil berteriak kenikmatan.
“Jangan keluarkan di dalam.”
Kata Evi sambil memundurkan
tubuhnya ke belakang.
Bu Heydi yang tahu hal itu
langsung berdiri. Evi langsung
melentangkan tubuhnya di
lantai sambil berkata kepadaku.
“Keluarkan di sini.” Kata Evi
sambil memegang kedua
payudaranya.
Kukangkangkan kakiku yang
setengah berdiri bertumpu
dengan kedua lututku tepat di
atas kepala Evi. Kutumpahkan
maniku di kedua payudara Evi
yang langsung dijilati Bu Heydi.
“Eeehmm..” Desah Evi.
Bu Heydi juga menjilati kepala
penisku. Sedangkan buah
pelirku dijilati oleh Evi. Aku lalu
pindah ke samping kanan Evi.
Kugesek-gesekkan penisku
yang masih keluar mani ke
kedua payudara Evi bergantian.
Juga ke belahan kedua
payudara Evi. Akhirnya
kujatuhkan tubuhku di samping
kanan Evi. Bu Heydi masih
menjilati kedua payudara Evi
bergantian sambil sesekali
membagi maniku dengan
lidahnya ke bibir Evi. Akhirnya
Bu Heydi juga menjatuhkan
tubuhnya di samping kiri Evi.
Setelah beristirahat sebentar
dan membersihkan tubuh di
kamar mandi yang ada di
dalam ruang BP, kami bertiga
pulang ke rumah masing-
masing.

Tags: #cerita bokep #Cerita dewasa #cerita hot #cerita hot terbaru #cerita mesum #cerita ngentot #cerita pemerkosaan #cerita perselingkuhan #cerita porno #cerita seks