Ibu Maya Yang Baik Hati

942 views
cerita sex

cerita sex

Setelah tamat dari SMU, aku
mencoba merantau ke Jakarta.
Aku berasal dari keluarga yang
tergolong miskin. Di kampung
orang tuaku bekerja sebagai
buruh tani. Aku anak pertama
dan memiliki dua orang adik
perempuan, yang nota bene
masih bersekolah.
Aku ke Jakarta hanya berbekal
ijazah SMU. Dalam perjalanan ke
Jakarta, aku selalu terbayang
akan suatu kegagalan. Apa
jadinya aku yang anak desa ini
hanya berbekal ijazah SMU mau
mengadu nasib di kota buas
seperti Jakarta. Selain berbekal
ijazah yang nyaris tiada artinya
itu, aku memiliki keterampilan
hanya sebagai supir angkot.
Aku bisa menyetir mobil, karena
aku di kampung, setelah pulang
sekolah selalu diajak paman
untuk narik angkot. Aku
menjadi keneknya, paman
supirnya. Tiga tahun
pengalaman menjadi awak
angkot, cukup membekal aku
dengan keterampilan setir mobil.
Paman yang melatih aku
menjadi supir yang handal, baik
dan benar dalam menjalankan
kendaraan di jalan raya. Aku
selalu memegang teguh pesan
paman, bahwa : mengendarai
mobil di jalan harus dengan
sopan santun dan berusaha
sabar dan mengalah. Pesan ini
tetap kupegang teguh.bule bugil
Di Jakarta aku numpang di
rumah sepupu, yang kebetulan
juga bekerja sebagai buruh
pabrik di kawasan Pulo Gadung.
Kami menempati rumah petak
sangat kecil dan sangat amat
sederhana. Lebih sederhana
dari rumah type RSS ( Rumah
Susah Selonjor). Selain niatku
untuk bekerja, aku juga berniat
untuk melanjutkan sekolah ke
Perguruan Tinggi. Dua bulan
lamanya aku menganggur di
Jakrta. Lamar sana sini,
jawabnya selalu klise, ” tidak
ada lowongan “.
Pada suatu malam, yakni malam
minggu, ketika aku sedang
melamun, terdengar orang
mengucap salam dari luar. Ku
bukakan pintu, ternya pak RT
yang datang. Pak RT minta agar
aku sudi menjadi supir pribadi
dari sebuah keluarga kaya.
Keluarga itu adalah pemilik
perusahaan dimana pak RT
bekerja sebagai salah seorang
staff di cabang perusahaan itu.
Sepontan aku menyetujuinya.
Esoknya kami berangkat
kekawasan elite di Jakarta.
Ketika memasuki halaman rumah
yang besar seperti istana itu,
hatiku berdebar tak karuan.
Setelah kami dipersilahkan
duduk oleh seorang pembantu
muda di ruang tamu yang
megah itu, tak lama kemudian
muncul seorang wanita yang
tampaknya muda. Kami memberi
hormat pada wanita itu. Wanita
itu tersenyum ramah sekali dan
mempersilahkan kami duduk,
karena ketika dia datang,
sepontan aku dan pak RT
berdiri memberi salam ” selamat
pagi”. Pak RT dipersilahkan
kembali ke kantor oleh wanita
itu, dan diruangan yang megah
itu hanya ada aku dan dia si
wanita itu.
” Benar kamu mau jadi supir
pribadiku ? ” tanyanya ramah
seraya melontarkan senyum
manisnya. ” “ya Nyonya, saya
siap menjadi supir nyonya ”
Jawabku. ” jangan panggil
Nyonya, panggil saja saya ini
“bu, “bu Maya ” Sergahnya halus.
Aku mengangguk setuju. ” Kamu
masih kuliah ?” ” Tidak nyonya
eh…Bu ?!” jawabku. ” Saya baru
tamat SMU, tapi saya
berpengalaman menjadi supir
sudah tiga ahun” sambungku.
Wanita itu menatapku dalam-
dalam. Ditatapnya pula mataku
hingga aku jadi slah tingkah.
Diperhatikannya aku dari atas
samapi kebawah. ” kamu masih
muda sekali, ganteng,
nampaknya sopan, kenapa mau
jadi supir ?” tanyanya. ” Saya
butuh uang untuk kuliah Bu ”
jawabku. ” Baik, saya setuju,
kamu jadi supir saya, tapi haru
ready setiap saat. gimana,
okey ? ” ” Saya siap Bu.”
Jawabku. ” Kamu setiap pagi
harus sudah ready di rumah ini
pukul enam, lalu antar saya ke
tempat saya Fitness, setelah itu
antar saya ke salon, belanja,
atau kemana saya suka.
Kemudian setelah sore, kamu
boleh pulang, gimana siap ? ” ”
Saya siap Bu” Jawabku. ” Oh..ya,
siapa namamu ? ” Tanyanya
sambil mengulurkan tangannya.
Sepontan aku menyambut dan
memegang telapak tangannya,
kami bersalaman. ” Saya Leman
Bu, panggil saja saya Leman ”
Jawabku. ” Nama yang bagus
ya ? tau artinya Leman ? ”
Tanyanya seperti bercanda. ”
Tidak Bu ” Jawabku. ” Leman itu
artinya Lelaki “daman ”
jawabnya sambil tersenyum dan
menatap mataku. Aku
tersenyum sambil tersipu. lama
dia menatapku. Tak terpikir
olehku jika aku bakal mendapat
majikan seramah dan se santai
“bu Maya. Aku mencoba juga
untuk bergurau, kuberanita diri
untuk bertanya pada beliau. ”
Maaf, Bu. jika nama “bu itu
Maya, apa artinya Bu ? ” ”
O..ooo, itu, Maya artinya
bayangan, bisa juga berarti
khayalan, bisa juga sesuatu
yang tak tampak, tapi ternyata
ada.Seperti halnya cita-citamu
yang kamu anggap mustahil
ternyata suatu saat bisa kamu
raih, nah,,,khayalan kamu itu
berupa sesuiatu yang bersifat
maya, ngerti khan ? ”
Jawabnya serius. Aku hanya
meng-angguk-angguk saja sok
tahu, sok mengerti, sok seperti
orang pintar.
Jika kuperhatikan, body “bu
Maya seksi sekali, tubuhnya
tidak trlampau tinggi, tapi
padat berisi, langsing,
pinggulnya seperti gitar
sepanyol. Ynag lebih, gila,
pantatnya bahenol dan buah
dadanya wah…wah…wah…puyeng
aku melihatnya.
Dirumah yang sebesar itu,
hanya tinggal “bu Maya,
Suaminya, dan dua putrinya,
yakni Mira sebagai anak kedua,
dan Yanti si bungsu yang masih
duduk di kelas “I” SMP, putriny
yang pertama sekolah mode di
Perancis. Pembantunya hanya
satu, yakni Bi “rah, tapi
seksinya juga luar biasa, janda
pula !
“bu Maya memberi gaji bulanan
sangat besar sekali, dan jika
difikir-fikir, mustahil sekali.
Setelah satu tahu aku bekerja,
sudah dua kali dia menaikkan
agjiku, Katanya dia puas atas
disiplin kerjaku. Gaji pertama
saja, lebih dari cukup untuk
membayar uang kuliahku. Aku
mengambil kuliah di petang hari
hingga malam hari disebuah
Universitas Swasta. Untuk satu
bulan gaji saja, aku bisa untuk
membayar biaya kuliah empat
semster, edan tenan….sekaligus
enak…tenan….!!! dasar rezeki,
tak akan kemana larinya.
Masuk tahun kedua aku
bekerja, keakraban dengan “bu
Maya semakin terasa. Setelah
pulang Fitness, dia minta jalan-
jalan dulu. Yang konyol, dia
selalu duduk di depan,
disebelahku, hingga terkadang
aku jadi kagok menyetir,
eh…lama lama biasa.
Disuatu hari sepulang dari
tempat Fitnes, “bu Maya minta
diatar keluar kota. Seperti
biasa dia pindah duduk ke
depan. Dia tak risih duduk
disebelah supir pribadinya.
Ketika tengah berjalan
kendaraan kami di jalan tol
jagorawi, tiba-tiba “bu maya
menyusuh nemepi sebentar. Aku
menepi, dan mesin mobil BMW itu
kumatikan. Jantungku
berdebar, jangan-jangan ada
kesalahan yang aku perbuat.
” Man,?, kamu sudah punya
pacar ? ” Tanyanya. ” Belum Bu
” Jawabku singkat. ” Sama
sekali belum pernah pacaran ?”
” Belum BU, eh…kalau pacar
cinta monyet sih pernah Bu,
dulu di kampung sewaktu SMP”
” Berapa kali kamu pacaran
Man ? sering atau cuma
iseng ?” tanyanya lagi. Aku
terdiam sejenak, kubuang jauh-
jauh pandanganku kedepan.
Tanganku masih memegang
setir mobil. Kutarik nafas dalam-
dalam. ” Saya belum pernah
pacaran serius Bu, cuma
sebatas cintanya anak yang
sedang pancaroba” Jawabku
menyusul. ” Bagus…bagus…kalau
begitu, kamu anak yang baik
dan jujur ” ujarnya puas sambil
menepuk nepuk bahuku. Aku
sempat bingung, kenapa Bu
Maya pertanyaannya rada
aneh ? terlalu pribadi lagi ?
apakah aku mau dijodohkan
dengan salah seorang
putrinya ? ach….enggak mungkin
rasanya, mustahil, mana
mungkin dia mau punya
menantu anak kampung seprti
aku ini ?!
Setelah itu kami melanjutkan
perjalanan kepuncak, bahkan
sampai jalan-jalan sekedar
putar-putar saja di kota
Sukabumi. Aku heran bin heran,
Bu Maya kok jalan-jalan hanya
putar-putar kota saja di
Sukabumi, dan yang lebih heran
lagi, Bu Maya hanya memakai
pakaian Fitness berupa celana
training dan kaos olah raga.
Setelah sempat makan di rumah
makan kecil di puncak, hari
sudah mulai gelap dan kami
kembali meneruskan perjalanan
ke Jakarta. Ditengah perjalanan
di jalan yang gelap gulita, Bu
Maya minta untu berbelok ke
suatu tempat. Aku menurut
saja apa perintahnya. Aku tak
kenal daerah itu, yang kutahu
hanya berupa perkebunan luas
dan sepi serta gelap gulita.
Ditengah kebun itu bu Maya
minta kaku berhenti dan
mematikan mesin mobil. Aku
masih tak mengerti akan
tingkah Bu Maya. Tiba-tiba saja
tangan Bu Maya menarik
lengaku. ” Coba rebahkan
kepalamu di pangkuanku Man ?”
Pintanya, aku menurut saja,
karena masih belum mengerti.
Astaga….setelah aku
merebahkan kepalaku di
pangkuan Bu Maya dengan
keadaan kepala menghadap
keatas, kaki menjulur keluar
pintu, Bu Maya menarik
kaosnya ketas. Wow…samar-
samar kulihat buah dadanya
yang besar dan montok. Buah
dada itu didekatkan ke
wajahku. Lalu dia berkata ”
Cium Man Cium…isaplah, mainkan
sayang …?” Pintanya. Baru aku
mengerti, Bu Maya mengajak
aku ketempat ini sekedar
melampiaskan nafsunya. Sebagai
laki-laki normal, karuan saja
aku bereaksi, kejantananku
hidup dan bergairah. Siapa
nolak diajak kencan dengan
wanita cantik dna seksi seperti
Bu Maya.
Kupegangi tetek Bu Maya yang
montok itu, kujilati putingnya
dan kuisap-isap. Tampak nafas
Bu Maya ter engah-engah tak
karuan, menandakan nafsu
biarahinya sedang naik. Aku
masih mengisap dan menjilati
teteknya. Lalu bu Maya minta
agar aku bangun sebentar. Dia
melorotkan celana trainingnya
hingga kebawah kaki. Bagian
bawah tubuh Bu Maya tampak
bugil. Samar-samar oleh sinar
bulan di kegelapan itu. ” Jilat
Man jilatlah, aku nafsu sekali,
jilat sayang ” Pinta Bu Maya
agar aku menjilati memeknya.
Oh….memek itu besar sekali,
menjendol seperti kura-kura.
tampaknya dia sedang birahi
sekali, seperti puting teteknya
yang ereksi. Aku menurut saja,
seperti sudah terhipnotis.
Memek Bu Maya wangi sekali,
mungkin sewaktu di restauran
tadi dia membersihkan
kelaminnya dan memberi
wewangian. Sebab dia sempat
ke toilet untuk waktu yang
lumayang lama. Mungkin disana
dia membersihkan diri. Dia tadi
ke tolilet membawa serta tas
pribadinya. Dan disana pula dia
mengadakan persiapan untuk
menggempur aku. Kujilati liang
kemaluan itu, tapi Bu Maya tak
puas. Disuruhnya aku keluar
mobil dan disusul olehnya. Bu
Maya membuka bagasi mobil dan
mengambil kain semacam karpet
kecil lalu dibentangkan diatas
rerumputan. Dia merebahkan
tubuhnya diatas kain itu dan
merentangnya kakinya. ” Ayo
Man, lakukan, hanya ada kita
berdua disini, jangan sia-siakan
kesempatan ini Man, aku
sayang kamu Man ” katanya
setengah berbisik, Aku tak
menjawab, aku hanya
melakukan perintahnya, dan
sedikit bicara banyak kerja. Ku
buka semua pakaianku, lalu ku
tindih tubuh Bu Maya.
Dipeluknya aku, dirogohnya alat
kelaminku dan dimasukkan
kedalam memeknya. Kami
bersetubuh ditengah kebun
gelap itu dalam suasana malam
yang remang-remang oleh sinar
gemintang di langit. Aku
menggenjot memek Bu Maya
sekuat mungkin. ” jangan keluar
dulua ya ? saya belum puas ”
Pintanya mesra. Aku diam saja,
aku masih melakukan adegan
mengocok dengan gerakan
penis keluar masuk lubang
memek Bu Maya. Nikmat sekali
memek ini, pikirku. Bu Maya
pindah posisi , dia diatas, dan
bukan main permainannya,
goyangnyanya.
” Remas tetekku Man,
remaslah….yang kencang ya ?”
Pintanya. Aku meremasnya. ”
Cium bibirku Man..cium ? Aku
mencium bibir indah itu dan
kuisap lidahnya dalam-dalam,
nikmat sekali, sesekali dia
mengerang kenikmatan. ”
Sekarang isap tetekku,
teruskan…terus…..Oh….Ohhhh…..Man…Leman…Ohhh…aku
keluar Man….aku kalah” Dia
mencubiti pinggulku, sesekali
tawanya genit. ” kamu
curang….aku kalah” ujarnya. ”
Sekarang gilirang kamu
Man….keluarkan sebanyak
mungkin ya? ” pintanya. ” Saya
sudah keluar dari tadi Bu, tapi
saya tetap bertahan, takut “bu
marah nanti ” Jawabku. ” Oh
Ya?…gila..kuat amat kamu ?!”
balas Bu Maya sambul mencubit
pipiku.foto hot cewe asia
” Kenapa “bu suka main di
tempat begini gelap ?” ” Aku
suka alam terbuka, di alam
terbuka aku bergairah sekali.
Kita akan lebih sering mencari
tempat seperti alam terbuka.
Minggu depan kita naik kapal
pesiarku, kita main diatas kapal
pesiar di tengah ombak
bergulung. Atau kita main di
pinggir sungai yang sepi, ah…
terserah kemana kamu mau ya
Man ?”
Selesai main, setelah kami
membersihkan alat vital hanya
dengan kertas tisue dan air
yang kami ambil dari jiregen di
bagasi mobil, kami istirahat. Bu
Maya yang sekarang tidur di
pangkuanku. Kami ngobrol
panjang lebar, ngalor ngidul.
Setelah sekian lama istirahat,
kontolku berdiri lagi, dan
dirasakan oleh kepala Bu maya
yang menyentuh batang
kejantananku. Tak banyak
komentar celanaku dibukanya,
dan aku dalam sekejap sudah
bugil. Disuruhnya aku tidur
dengan kaki merentang, lalu Bu
Maya membuka celana
trainingnya yang tanpa celana
dalam itu. Bu Maya mengocok-
ngocok penisku, diurutnya
seperti gerakan tukang pjit
mengurut tubuh pasiennya.
Gerakan tangan Bu Maya
mengurut naik-turun. Karuan
saja penisku semakin membesar
dan membesar. Diisapnya
penisku yang sudah ereksi
besar sekali, dimainkannya lidah
Bu Maya di ujung penisku.
Setelah itu, Bu Maya
menempelkan buah dadanya
yang besar itu di penisku.
Dijepitkannya penisku kedalam
tetek besar itu, lalu di goyang-
goyang seperti gerakan
mengocok. ” Giaman Man ? enah
anggak ? ” ” Enak Bu, awas lho
nanti muncrat Bu” jawabku.. ”
Enggak apa, ayo keluarkan,
nanti kujilati pejuhmu, aku mau
kok ?!” . Bu Maya masih giat
bekerja giat, dia berusaha
untuk memuaskan aku. Tak
lama kemudian, Bu Maya naik
keposisi atas dan seperti
menduduki penisku, tapi lobang
memeknya dimasuki penisku.
Digoyang terus…hingga aku
merasakan nikat yang luar
biasa. Tiba -tiba Bu Maya
terdiam, berhenti bekerja, lalu
berjata :” Rasakan ya Man ?
pasti kamu bakal ketagihan ”
Aku membisu saja. dan ternya
Ohh….memek Bu Maya bisa
melakukan gerakan empot-
empot, menyedot-nyedot dan
meng-urut-urut batang
kontolku dari bagian kepala
hingga ke bagian batang
bawah, Oh….nikmat sekali, ini
yang namanya empot ayam,
luar biasa kepiawaian Bu Maya
dalam bidang oleh seksual. ”
Enak syang ?” tanyanya. Belum
sempat aku menjawab,
yah….aku keluar, air maniku
berhamburan tumpah ditenga
liang kemaluan Bu Maya.
” “tu yang namanya empot-
empot Man, itulah gunanya
senam sex, berarti aku sukses
l;atihan senam sex selama ini ”
Katanya bangga. ” Sekarang
kamu puasin aku ya ? ” Kata Bu
Maya seraya mengambil posisi
nungging. Ku tancapkan lagi
kontolku yang masih ereksi
kedalam memek bu Maya, Ku
genjot terus. ” Yang dalam
man…yang dalam ya..teruskan
sayang…? oh….enak sekali
penismu…..oh….terus sayang ?!”
Pinta Bu Maya. Aku masih
memuaskan Bu Maya, aku tak
mau kalah, kujilati pula lubang
memeknya, duburnya dan
seluruh tubuhnya. Ternyata Bu
Maya orgasme setelah aku
menjlati seluruh tubuhnya. ”
kamu pintar sekali Man ?
belajar dimana ? ” ” Tidak bu,
refleks saja” Jawabku.
Sebelum kami meninggalkan
tempat itu, Bu Maya masih
sempat minta satu adegan lagi.
Tapi kali ini hanya sedikit
melorotkan celana trainingnya
saja. demikian pula aku, hanya
membuka bagian penis saja. Bu
Maya minta aku melakukanya di
dalam mobil, tapi ruangannya
sempit sekali. Dengan susah
payang kami melakukannya dan
akhirnya toh juga mengambil
posisinya berdiri dengan tubuh
Bu Maya disandarkan di mobil
sambil meng-angkat sedikit kaki
kanannya.Foto Ngentot Pacar
Sejak saat malam pertama kami
itu, aku dan Bu Maya sering
bepergian keluar kota, ke pulau
seribu, ke pinggir pantai, ke
semak-semak di sebuah desa
terpencil, yah pokoknya dia cari
tempat-tempat yang aneh-
aneh. Tak kusadari kalau aku
sebenarnya menjadi gigolonya
Bu Maya. Dan beliaupun semakin
sayang padaku, uang mengalir
terus ke kocekku, tanpa
pernah aku meminta bayaran.
Dia menyanggupi untuk
membiayai kuliah hingga tamat,
asal aku tetap selalu besama Bu
Maya yang cantik itu.

Incoming search terms:

Tags: #cerita bokep #Cerita dewasa #cerita hot #cerita hot terbaru #cerita mesum #cerita ngentot #cerita pemerkosaan #cerita perselingkuhan #cerita porno #cerita seks